Dalam dunia pendidikan, kita sering terjebak dalam obsesi akan peringkat: "Siapa yang terbaik?", "Siapa yang berada di urutan pertama?". Namun, jauh sebelum data besar (big data) mendominasi ruang kelas, seorang pria bernama Robert Glaser telah mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendalam.
Bob
Glaser berhasil mengkreasi sebuah metode penilaian yang dikenal sebagai
Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced Assessment) pada masa Perang Dunia II. Metode
ini diadopsi secara luas di bidang pendidikan, khususnya dalam hal asesmen pembelajaran,
mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Pada tahun 1963, Bob Glaser tidak hanya sekadar mengusulkan metode; ia mengguncang fondasi evaluasi pendidikan dengan memperkenalkan konsep Penilaian Acuan Kriteria (Criterion-Referenced Assessment).
Bayangkan
Anda berada dalam sebuah perlombaan lari. Dalam sistem Penilaian Acuan Norma, keberhasilan
Anda ditentukan oleh seberapa cepat Anda berlari dibandingkan pelari lain. Jika
Anda pelari yang sangat cepat tetapi berada di samping seorang juara Olimpiade,
Anda mungkin tetap dianggap "di bawah rata-rata".
Bob
Glaser merasa sistem ini tidak adil dan, yang lebih penting, tidak informatif.
Ia mengajukan model baru: Mengapa membandingkan siswa dengan siswa lain, jika
kita bisa membandingkan siswa dengan tujuan pembelajaran itu sendiri? Bob
Glaser memperkenalkan sebuah skor atau nilai pembatas yang akan memilah siswa
yang kategori tuntas dan siswa yang tidak tuntas. Skor atau nilai pembatas yang
memilahkan kategori tuntas dan tidak tuntas tersebut dikenal sebagi KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimum) dalam Kurikulum 2013 atau KKTP (Kriteria Ketuntasan Tujuan
Pembelajaran) dalam Kurikulum Nasional sekarang. Guru akan memberikan metode pengajaran
ulang, tutor sebaya, dan sebagainya bagi siswa yang tidak tuntas sehingga
mereka bisa menguasai materi pembelajaran.
Dalam sistem Glaser, sukses bukan berarti mengalahkan teman sekelas. Sukses berarti menguasai materi pembelajaran yang diajarkan. Apakah Anda bisa memecahkan persamaan matematika tersebut? Apakah Anda memahami konsep sejarah ini? Jika ya, Anda kompeten. Titik.
Mengapa Ini Penting?
Konsep
Bob Glaser membawa angin segar bagi dunia pendidikan karena tiga alasan
fundamental.
Pertama,
kejelasan tujuan. Siswa akhirnya tahu apa yang diharapkan pada pembelajaran
mereka. Tidak ada lagi misteri mengenai apa yang akan diujikan atau standar apa
yang harus dicapai.
Kedua,
diagnostik, bukan sekadar vonis. Penilaian acuan kriteria berfungsi sebagai
cermin. Jika seorang siswa gagal, guru tidak hanya memberikan nilai
"merah", tetapi bisa menunjuk dengan tepat bagian mana dari materi pembelajaran
yang belum dikuasai.
Ketiga, menghilangkan "Kurva Lonceng" atau kurva distribusi normal yang kejam. Dengan meniadakan kebutuhan untuk memaksakan distribusi nilai (di mana harus ada siswa yang "gagal" agar ada yang "berprestasi"), pendidikan menjadi ruang untuk perkembangan, bukan sekadar medan tempur untuk mendapatkan ranking.
Warisan yang Relevan di Era Digital
Hari ini, di tengah perdebatan tentang efektivitas kurikulum dan standarisasi, pemikiran Bob Glaser terasa lebih relevan dari sebelumnya. Saat kita berbicara tentang "pembelajaran berbasis kompetensi" di era teknologi, kita sebenarnya sedang menjalankan visi yang diletakkan oleh Bob Glaser enam dekade lalu.
Bob Glaser mungkin tidak berada di panggung utama, namun setiap kali seorang guru memberikan umpan balik spesifik yang membantu seorang siswa benar-benar memahami suatu subjek, bukan sekadar mencetak angka lebih tinggi dari teman sebelahnya, di situlah warisan Bob Glaser hidup.
Ia
mengajarkan kita bahwa pendidikan sejati bukanlah tentang memenangkan
kompetisi, melainkan tentang mencapai standar keunggulan yang kita tetapkan
untuk diri kita sendiri. Sebuah pesan sederhana, namun revolusioner bagi dunia
yang sering kali lupa bahwa tujuan utama sekolah adalah untuk mencerdaskan,
bukan sekadar memeringkat.

Comments
Post a Comment